Senin, 11 Oktober 2010

Obat yang digunakan dalam pengobatan asma


Sesuai dengan macam efek dan kegunaannya dalam klinik, akhir-akhir ini obat antiasma dibagi menjadi 2 golongan utama, yaitu:

1.  bronkodilator (reliever) termasuk agonis Beta-2, teofilin, dan    antimuskarinik.

2.  antiinflamasi (preventer) termasuk kortikosteroid dan stabilizer sel mastosit. Untuk memperoleh konsentrasi lokal yang tinggi dan efek samping sistemik yang paling ringan, semua obat asma dapat diberikan secara inhalasi, kecuali teofilin. Pendekatan baru pada terapi asma antara lain dengan pemberian antagonis reseptor, dan yang lebih spesifik seperti antagonis reseptor H1 generasi Ice-2 (misal ketotifen) dan antagonis leukotriens (misal, antagonis LTD4 dan penghambat 5-lipoksigenase). Efikasi pendekatan baru ini pada pengobatan asma sedang diteliti dengan uji klinik.

Imunisasi untuk menghindari penyakit pada Balita Anda

Ada beberapa jenis penyakit menular yang dapat dicegah dengan cara imunisasi. Imunisasi adalah dengan sengaja memasukkan vaksin yang berisi mikroba hidup yang sudah dilemahkan pada balita. Imunisasi akan memberikan perlindungan seumur hidup pada balita terhadap serangan penyakit tertentu. Dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh balita, tubuh balita akan dipaksa memproduksi zat antibodi untuk melawan infeksi penyakit. Antibodi yang sudah terbentuk ini untuk selanjutnva akan memberikan perlindungan pada balita terhadap penyakit tertentu tersebut.

Imunisasi perlu diberikan beberapa kali agar memberikan hasil kekebalan tubuh seperti yang diharapkan. Umumnya, imunisasi hanya memiliki risiko rendah, yaitu sedikit meningkatkan suhu badan balita. Namun ada pula vaksinasi yang berbahaya dan memiliki risiko yang cukup fatal, yaitu imunisasi pada balita yang menderita epilepsi atau pada balita yang memiliki anggota keluarga yang mengidap epilepsi. Pada kondisi tersebut, imunisasi sama sekali tidak dianjurkan dan sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter.

Balita yang kondisi tubuhnya kurang sehat juga sebaiknya tidak diberi vaksinasi atau imunisasi sebab dapat membahayakan kesehatannya. Terganggunya kesehatan balita akibat imunisasi yang diberikan pada saat kondisi tubuhnya kurang sehat dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Vaksinasi adalah tindakan memasukkan mikroba yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh. Adanya mikroba asing dalam tubuh akan menaikkan suhu badan sewaktu tubuh sedang melakukan perlawanan. Karena kondisinya kurang sehat, balita akan makin menderita akibat tubuhnya `dipaksa’ melakukan dua perlawanan sekaligus, satu terhadap mikroba asing yang membuat kondisi tubuhnya kurang sehat, dan kedua terhadap mikroba asing yang masuk lewat imunisasi.

2. Apabila balita yang kondisi tubuhnya kurang sehat atau demam diberi imunisasi, suhu badannya dapat meningkat sangat tinggi dan berisiko mengalami kejang demam. Sebelum melakukan imunisasi biasanya dokter melakukan pemeriksaan pendahuluan terhadap kesehatan balita, tetapi sebaiknya orang tua menyampaikan juga kondisi kesehatan buah hatinya secara rinci agar dokter memiliki informasi yang lengkap sebelum memutuskan imunisasi dilaksanakan.

Vaksin Polio

Vaksin polio adalah vaksin polio oral hidup berupa suspensi dalam air dari galur pilihan virus Poliomyelitis tipe 1, tipe 2, atau tipe 3 hidup yang dilemahkan dan dibiakkan dalam biakan sel yang memenuhi syarat. Sediaan dapat mengandung satu tipe virus atau campuran dari dua atau tiga tipe virus. Sediaan berupa cairan jernih dan stabil.

Pembuatan Vaksin
Pembuatan dilakukan dengan cara sistem biakan benih yang dipasase tidak lebih dari 3 subkultur, yang pada uji laboratorium dan uji klinis menunjukkan galur yang sesuai sebagai berikut:

1. Masing-masing tipe virus dibiakkan dalam biakan sel yang telah bebas dari cemaran mikroorganisme asing. Media untuk pertumbuhan awal sel dapat ditambahkan serum hewan, tetapi media untuk pemeliharaan biakan sel selama pengembangbiakan virus tidak boleh mengandung protein. Media biakan sel dapat mengandung indikator pH yang sesuai, seperti merah fenol, dan antibiotik yang sesuai dengan kadar efektif terkecil.

2. Suspensi virus dipanen, kemudian dilakukan uji identifikasi, sterilitas, dan bebas virus asing.

3. Kumpulkan virus yang telah memenuhi syarat dan saring melalui penyaring bakteri.

4. Terhadap virus yang telah disaring, lakukan uji identifikasi, kemampuan tumbuh pada suhu yang berbeda, dan penetapan konsentrasi virus dalam biakan sel.

5. Uji neurovirulen dilakukan dengan penyuntikan secara intraspinal pada Macaca irus (kera Cynomolgus) atau hewan sejenis yang peka. Vaksin uji dan vaksin homotipik pembanding diuji secara bersamaan menggunakan kera yang berasal dari satu kelompok karantina.

Cara Pengujian Vaksin Polio Identifikasi:
Setelah dinetralkan dengan antiserum polio spesifik, vaksin tidak lagi menginfeksi biakan sel yang peka.

Titer virus:
Lakukan titrasi virus dalam biakan sel menggunakan 5 tabung biakan sel untuk masing-masing pengenceran 0,5 log10) atau dengan metode lain dengan kepekaan sama. Titer virus tipe 1 dan tipe 3 tidak kurang dari 5,5 log10 dari dosis infektif kultur sel 50%, dan virus tipe 2 tidak kurang dari 5,0 log10 dari dosis infektif kultur sel 50% per dosis tunggal manusia.

Wadah dan Penyimpanan
Simpan pada suhu yang tertera pada label kemasan (misalnya -25°C), mengingat sifat stabilisator yang digunakan. Jika telah dicairkan, vaksin harus disimpan pada suhu 2°-8°C dan digunakan dalam waktU 6 bulan. Jika disimpan pada suhu yang lebih tinggi, vaksin harus segera digunakan dalam beberapa jam.

Pencegahan wabah demam berdarah dengue

Pencegahan wabah DHF didasarkan pada pengendalian vektor (lthat Bab 5), karena vaksin belum tersedia. Saat ini, satu-satu-nya cara yang efektif untuk menghindari infeksi virus dengue adalah menghindari tergigit dari nyamuk yang terinfeksi. Pendekatan yang luau untuk pencegahan DHF meliputi in-tegrasi tindakan yang diuraikan pada hub-hub sebelumnya. Pro-gram-program tersebut akan mengkombinasikan dua atau lebih kompenen berikut:

• Surveilens dan pengobatan penyakit, apakah didasarkan pada sentralisasi atau pada sistem perawatan kesehatan setempat.
• Surveilens dan pengendalian vektor, dengan penatalaksana-an lingkungan terpadu dan pengendalian kimiawi serta biologis.
• Pengawasan air tampungan yang baik, sanitasi, serta pe-nanganan sampah padat.
• Pendidikan kesehatan, komunikasi kesehatan masyarakat dan partisipasi komunitas.

Penularan virus dengue sering menjadi masalah penata-laksanaan lingkungan setempat, dan anggota penghuni rumah tangga dapat dengan sering menurunkan risiko mereka terhadap DF dan DHF dengan sedikit biaya atau tanpa biaya dengan mengontrol habitat larva dan melawan nyamuk dewasa dengan pemasangan tirai jendela dan pintu dan mengunakan semprotan insektisida ruangan. Tantangan bagi pejabat kesehatan masya-rakat adalah menemukan cara untuk memungkinkan komunitas mengenali masalah, melakukan pembagian tanggung jawab untuk solusinya dan meningkatkan kemampuan dan motivasi untuk mencegah dan mengontrol demam dengue.

Teh Minuman Kesehatan

Teh merupakan tanaman daerah tropis dan subtropis yang secara ilmiah dikenal dengan Camellia Sinensis. Dari kurang lebih 3000 jenis teh hasil perkawinan silang, didapatkan 3 macam teh hasil proses, yaitu teh hijau, teh oolong, dan teh hitam. Cara pengolahan teh yaitu dengan merajang daun teh dan dijemur di bawah sinar matahari sehingga mengalami perubahan kimiawi sebelum dikeringkan. Perlakuan tersebut akan menyebabkan warna daun menjadi coklat dan memberi cita rasa teh hitam yang khas.

Teh hijau, jenis teh tertua, amat disukai terutama oleh masyarakat Jepang dan Cina. Di sini daun teh mengalami sedikit proses pengolahan, hanya pemanasan dan pengeringan sehingga warna hijau daun dapat dipertahankan. Sedangkan teh oolong lebih merupakan jenis peralihan antara teh hitam dan teh hijau. Ketiga jenis teh masing-masing memiliki khasiat kesehatan karena mengandung ikatan biokimia yang disebut polyfenol, termasuk di dalamnya flavonoid. Flavonoid merupakan suatu kelompok antioksidan yang secara alamiah ada di dalam sayur-sayuran, buah-buahan, dan minuman seperti teh dan anggur.

Subklas polifenol meliputi flavonol, flavon, flavanon, antosianidin, katekin, dan biflavan. Turunan dari katekin seperti epi-cathecin (EC), epigallo-cathecin (EGC), epigallo-cathecin gallate (EGCg), dan quercetin umumnya ditemukan di dalam teh. EGCg dan quercetin merupakan anti oksidan kuat dengan kekuatan hingga 4-5 kali lebih tinggi dibandingkan vitamin E dan C yang juga merupakan antioksidan potensial. Antioksidan diketahui mampu menghindarkan sel dari kerusakan mengingat setiap kerusakan sel akan menyumbang lebih dari 50 penyakit.

Teh hijau mengandung EGCg, demikian juga teh hitam, demikian dikatakan seorang ahli biokimia. Dalam sebuah studi yang dilakukan peneliti Belanda menyebutkan, mengkonsumsi 4-5 cangkir teh hitam setiap hari akan menurunkan resiko stroke hingga 70% dibanding dengan mereka yang mengkonsumsi teh 2 cangkir sehari atau kurang. Laporan lainnya menyebutkan lebih banyak mengkonsumsi teh hitam berhubungan dengan rendahnya kasus serangan jantung. John Folts, Direktur Sekolah Medis, Pusat Penelitian dan Pencegahan Arteri Trombosis, Universitas Wisconsin, AS menemukan kunci khasiat dalam teh yaitu flavonoid. Hasil penelitiannya menunjukkan, flavonoid dalam teh hitam mampu menghambat penggumpalan sel-sel platelet darah sehingga mencegah penyumbatan pembuluh darah pada penyakit hantung koroner dan stroke. Studi lain menyebutkan bahwa peminum teh fanatik memiliki kadar kolesterol dan tekanan darah yang rendah, meskipun masih belum jelas apakah semuanya itu langsung disebabkan karena teh.

Para peneliti di Universitas Case Western Reserve, Cleveland, AS menemukan pengaruh penggunaan teh hijau pada kulit hingga 90 %. Ternyata teh sangat efektif melindungi kulit dari sinar matahari yang dapat mengakibatkan kanker kulit. Teh juga diketahui mengandung fluoride yang dapat menguatkan email gigi dan membantu mencegah kerusakan gigi. Dalam suatu studi laboratorium di Jepang, para ahli menemukan bahwa teh membantu mencegah pembentukan plak gigi dan membunuh bakteri mulut penyebab pembengkakan gusi.

Penelitian di Jepang menunjukkan, daerah penghasil teh yang pendudukanya terkenal sebagai peminum teh fanatik, sangat rendah angka kematiannya yang disebabkan oleh kanker. Hasil studi lainnya, dilakukan kerjasama antara tim peneliti Oguni dan pusat penelitian kanker di Beijing untuk mempelajari pengaruh ekstrak teh hijau pada tikus yang telah diberi ransum makanan karsinogenik (zat pemicu kanker). Dilaporkan, angka rata-rata kanker pada tikus yang memperoleh ekstrak teh hijau setengah dari tikus yang tidak memperoleh ekstrak teh hijau.

Para peneliti yakin bahwa polifenol yang dikenal sebagai cathecin yang terdapat pada teh hijau, membantu tubuh manusia melawan sel kanker. Studi lainnya dilakukan oleh Oguni dan Dr. Masami Yamada dari Hamamatsu Medical Center menemukan cathecin membunuh Helicobator pylori, bakteri pemicu kanker lambung.